Berkorban untuk Kuliah Sang Pacar, Tapi Setelah Lulus Dia Malah Menikah dengan Pria Lain
Namanya Chen Hong, ketua kelas saya. Dia cantik, prestasi di
sekolah sangat bagus. Nada bicaranya halus dan lembut. Di dalam kelas kami
duduk semeja. Karena kegigihanku mengejarnya, akhirnya dia bersedia menjadi
pacarku.
Setelah
mengawali cinta yang naif, Chen Hong dengan tegas mengatakan kepadaku agar
jangan sepanjang hari mencarinya, karena masih harus belajar.
Kita
perlu saling mendukung dan membangkitkan semangat masing-masing, berusaha lulus
dengan sebaik mungkin dan bisa diterima di universitas bergengsi.
Berbekal
dengan tekad yang sama, kami pun berhasil melewatinya dengan hasil ujian yang
manis.
Sayangnya, saya hanya diterima di akademi, sedangkan Chen Hong bisa masuk di
universitas bergengsi.
Tapi
kondisi ekonomi keluarganya tidak terlalu bagus, ditambah lagi dengan
orangtuanya yang lebih mengutamakan anak laki-laki daripada perempuan.
Orangtuanya
tiak bersedia membiayai kuliahnya, menyuruhnya tidak usah kuliah, langsung cari
kerja saja.
Melihatnya
selalu murung sepanjang hari, aku pun bilang kepadanya, “Kamu kuliah saja, kan
masih ada aku, aku juga tidak mau melanjutkan di akademi, jadi, aku akan cari
kerja dan membiayai kuliahmu.”
Awalnya
dia menolak, karena aku tetap bersikeras menyuruhnya kuliah, akhirnya ia pun
kuliah di universitas bergengsi itu.
Sementara
aku pun mengawali karier hidupku dengan bekerja di sebuah pabrik.
Demi
membiayai kuliahnya, setiap bulan aku menyisakan uang untuk biaya hidupku
sehari-hari, selebihnya aku serahkan kepadanya.
Singkat
cerita , setelah empat tahun kemudian, pacarku pun menyelesaikan kuliahnya.
Selama
empat tahun itu, karena ingin berhemat, aku pun jarang menemuinya. Kami bertemu
pada saat hari raya nasional, sehari-hari kami hanya mengadakan kontak via
telepon.
Tak
lama setelah lulus dia akhirnya mendapat pekerjaan.
Suatu
hari, aku ingin memberinya sebuah kejutan, lalu aku pun menunggunya di depan
gerbang kantornya, dan saat akan meneleponnya, aku melihatnya berjalan keluar
bersama dengan rekan kerjanya, dan dia tampak terkejut ketika melihatku.
Melihat
itu, rekan sekantornya bertanya siapa pria itu, dia berkata “Oh, dia kakak
sepupu saya di kampung,”.
Dadaku
serasa sesak mendengar perpakataan itu, namun, dia mencoba menjelaskan kepada
saya bahwa aturan perusahaan melarang karyawannya pacaran, semuanya akan normal
kembali setelah nanti dia naik jabatan. Dan aku percaya saja dengan penjelasannya.
Tak
lama kemudian, aku bilang mau menikah, tapi dia meyakinkanku untuk menundanya
dengan alasan kariernya baru menanjak.
Kami
memang pacaran jarak jauh, terpisah antar dua daerah.
Sampai
suatu hari, ketika kita bertemu dia bilang bosan dengan pacaran jarak jauh, dan
bilang akan menikah dengan seseorang.
Bukan
main gembiranya aku mendengarnya, aku pikir akhirnya dia bersedia juga menikah
denganku.
Tapi
tak disangka, dia bilang sudah tidak mencintaiku lagi, dia ingin menikah dengan
pria lain.
Sesaat
aku terhenyak dan nyaris tak percaya mendengar apa yang dikatakan, namun, tanpa
menoleh lagi dia pun pergi meninggalkan aku.
Temanku
bilang, ada seorang pria tampan mengendarai mobil mewah sambil membawa kado
bertandang ke rumahnya untuk tunangan.
Aku
tidak rela, dan ke rumahnya, orangtuanya hanya tahu ada seseorang yang baik
hati yang selalu membantunya, tapi tidak pernah tahu sosok orang baik hati itu
adalah aku.
Lalu
dengan tenang aku bilang aku adalah teman sekolahnya, ingin sekali menghadiri
pernikahannya, mengucapkan selamat berbahagia dalam resepsi pernikahannya
nanti, karena alasan sebagai teman sekolah inilah, aku pun mendapatkan waktu
dan tempat pernikahannya.
Pada
hari pernikahannya, aku melihatnya turun dari mobil pernikahan, ditanganku aku
membawa sebuah buku catatan tentang biaya yang kukeluarkan selama
bertahun-tahun untuk membiayai kuliah dan hidupnya sehari-hari ketika itu, dan
sekarang aku ingin menagihnya.
Dia
tampak panik dan bingung sekaligus malu setelah melihatku, melihat suasana itu,
mempelai pria pun bertanya kepadanya, tapi dia hanya diam membisu.
Kemudian,
ayahnya si mempelai pria menarikku menjauh dari sana, lalu memberikan uang
kepadaku dan menyuruhku segera pergi, atau dia akan mengambil tindakan kalau
aku tak mau pergi.
Aku
pun pergi setelah menerima uang itu, meski pun sakit hati ini, tapi aku sadar
semua itu sudah berlalu, dan aku merasa tidak pantas bersedih hati hanya untuk
wanita seperti itu.
Komentar
Posting Komentar